Hampir semua ceritaku, ia tau… apa yang
seharusnya tidak aku ceritakan pada orang- orang di sekitarku, aku ceritakan
padanya. Tidak ada pembatas yang aku rasakan saat aku bersama dengannya,
sehingga semua yang ada dipikiranku keluar bersamaan dengan percakapan
itu…bagaimana diriku, ia tau, sifatku hampir semuanya ia bisa menebaknya….
Bahkan sekarang semakin lama aku bersama dengannya, aku merasa tak perlu
mengatakan apa- apa lagi, karena ia sudah bisa menebak apa yang aku
pikirkan apa yang akan aku lakukan…
Rasa takutku, bagaimana aku melihat orang
sekitar ia sangat paham itu…
Tapi tidak denganku, aku sama sekali tidak
mengerti bagaimana ia, banyak hal yang kami ceritakan, tapi tak banyak
pengertian yang bisa aku pahami darinya, ia sangat menjaga rahasia yang ada
padanya. Ia bahkan merahasiakan kegiatannya padaku, (sangat jarang sekali ia
mengatakan ia "aku sibuk, dan saat ini aku tidak ingin di ganggu. Atau ia
bahkan tidak mengatakan nanti dulu,"), ia mendiami aku saat dirinya merasa
jenuh, bosan, atau mungkin diam karena aku terlalu bawel untuknya.Ia selalu
mencari tau apa yang ada pada diriku, mulai dari keluarga, teman, hingga
keseharianku…aku sangat mempercayainya. Tak terlintas sedikitpun apakah yang ia
katakan itu membohongi aku, dan dengan rahasianya atau mungkin kebohongan yang
ia perbuat aku merasa sangat nyaman… apa yang harus aku lakukan??? aku sudah
terlanjur percaya padanya, dari awal, sampai detik ini aku sangat percaya
padanya.
Kami memulai hubungan pertemanan yang benar-
benar dekat semenjak dua tahun terakhir ini, memang sebelumnya kami saling
kenal karena memang sejak kecil aku "tau" ia, tapi aku tidak
"mengenalnya" kebetulan sekolah kami itu satu komplek, berdekatan.
Saat itu aku tau dia adalah sosok anak laki- laki yang biasa saja dan tidak
banyak yang aku tau darinya, setelah beberapa tahun kami mendapatkan pendidikan
di sekolah dasar, kamipun bertemu di kelas yang sama, yaitu di kelas dua SMP
tepatnya di kelas 2.8 SMP N 1 Pp, aku dan dia satu kelas, bahkan aku sempat
duduk tepat dibelakangnya. Di kelas itulah aku mulai ingin menjadi teman
dekatnya, tapi tidak bisa aku lakukan. Aku ingin menjadi teman dekatnya
karena aku kagum padanya, seorang laki- laki baik, pengertian terhadap semua,
apapun itu ia juga dipercaya oleh teman- teman yang dekat dengannya. Sayangnya
saat itu yang aku lihat ia seolah menutup diri dengan lingkungan yang baru. Ia
bergaul dengan semua, tapi yang aku lihat darinya ia tidak membiarkan temannya
yang lain mengerti apa yang dia mau.
Kami berpisah setelah kenaikan kelas, dan tanpa
aku sadari kami di pertemukan lagi oleh-Nya di sekolah yang awalnya aku anggap
sebagai tempat pelarian, sekolah itu adalah MAN Pp, di sekolah itu, memang aku
dan ia tidak pernah satu kelas, tapi aku bisa bercerita dengannya saat kegiatan
ekskul.Pramuka. Memang saat itu bahkan sampai sekarang aku hanya mencoba
bagaimana untuk menjadi temannya, apa saja yang harus aku katakan padanya
sehingga ia merasa nyaman saat berada dekat denganku, tetap saja yang aku
lakukan aku hanya bisa mengucapkan beberapa kalimat padanya, kemudian berlalu
begitu saja. Tidak berkesan sedikitpun.
Sempat aku berpikir kenapa aku sangat ingin
menjadi teman dekatnya waktu itu, aku hanya bisa mendapatkan jawaban atas
pertanyaan yang aku buat sendiri itu, karena ia adalah seoranng yang damai yang
aku lihat. Ia memiliki banyak teman, dan ia orang yang ikhlas, ntah dari segi
mana aku melihat sifat itu darinya, tapi itulah yang aku rasakan, dan aku ingin
mengenalnya, jauh dari itu aku sangat berkeinginan memiliki seorang sahabat
laki-2. dulu aku sangat ingin sekali merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang
kakak laki- laki, bagaimana aku dilindungi oleh kakak laki-2 itu, aku memang
mendapatkan perhatian sosok laki- laki hebat, yaitu... Ayah, ya hanya dari ayah
aku bisa merasakan perhatian dan kasih sayang yang tulus, tapi aku tidak
mungkin menceritakan apapun yang aku alami setiap harinya pada ayah hanya untuk
mendapat tambahan perhatian darinya, karena ayah adakah sosok laki- laki
perkerja keras, ia tidak ingin melihat istri dan anak- anaknya kekurangan
sedkitpun. Mana mungkin aku menambahkan cerita- ceritaku pada ayah,
karena itu aku sangat ingin ssekali memiliki kakak laki- laki. Tapi itu tidak
mungkin dan sangat tidak mungkin. Aku beralih dengan selalu berkhayal memiliki
sahabat laki- laki. Semenjak aku duduk di bangku kelas satu, rasa ingin
mendapatkan perhatian dari sosok kakak laki- laki itu semakin besar, dan
beberapa orang laki- lakipun sempat dekat denganku. Tapi mereka tidak
memberikan apa yang aku mau, mereka malah menuntutku mereka menyatakan suka
padaku, bukan itu yang aku inginkan, aku hanya ingi berteman dan aku
hanya ingin benar- benar dekat dengannya. Karena aku pikir jika aku membalas
apa yang mereka katakan padaku, itu artinya aku sudah memiliki pasangan, tidak
ada yang bisa menjamin aku kan nyaman dengan hanya selalu berdua begitu saja.
Beberapa orang laki- laki yang awalnya merasa nyaman aku dengannya selalu
menyatakan perasaannya padaku, sehingga aku benar- benar takut dengan hal itu,
Sempat aku berpikir apa aku tidak akan
mendapatkan sahabat laki- laki??? Aku iri dengan orang yang di keluarganya
lengkap, ada perempuan dan ada laki-2 selain ayah di dalamnya. Setiap aku
berusaha dekat dengan laki- laki, beberapa dari mereka mengira aku menginginkan
perasaannya sebagai seorang kekasih, tapi mereka tidak menunjukkan sosok
seorang kakak yang aku cari. Mereka yang aku temui tidak bsa mengatur-2ku.
tidak bisa mengijinkan aku memahaminya, dan kalau aku salah, ia lebih banyak
mendiami aku dengan kesalahan yang aku perbuat.
Sampai akhirnya aku merasakan sosok itu ada
padanya, ia marah, ia perhatian, ia bisa melarang dan ia bisa menyuruhku apapun
itu tanpa batas, ia bisa menilai bagaimana sikap yang ia harus lihatkan dan
tidak dilihatkan padaku. Sejalan dengan itu aku menyukai sosoknya, ia sangat
sempurna bagiku, bahkan ia mampu menakutiku. Dekatnya aku dengannya saat ini,
tidak membuatnya melakukan hal yang dilakukan mereka yang sudah dekat denganku
sebelumnya, ia tidak mengatakan perasaannya langsung padaku, sehingganya aku
tidak takut padanya.
diamnya membuat ku merasa sangat bersalah...
Yang aku sesali sekarang, ia begitu banyak
menyimpan rahasia, aku tidak mampu membalas apa yang sudah ia berkan padaku,
karena ia menutup semuanya dariku. Ia hanya ingin aku mendapatkan perhatian
padanya tanpa aku minta, tapi ia tidak mengijinkan aku mengerti akan dirinya.
Rahasianya kebohongannya ataupun kejujurannya membuatku nyaman.