Kamis, 26 April 2012

rahasianya...


Hampir semua ceritaku, ia tau… apa yang seharusnya tidak aku ceritakan pada orang- orang di sekitarku, aku ceritakan padanya. Tidak ada pembatas yang aku rasakan saat aku bersama dengannya, sehingga semua yang ada dipikiranku keluar bersamaan dengan percakapan itu…bagaimana diriku, ia tau, sifatku hampir semuanya ia bisa menebaknya…. Bahkan sekarang semakin lama aku bersama dengannya, aku merasa tak perlu mengatakan apa- apa lagi, karena ia sudah bisa menebak apa yang aku pikirkan  apa yang akan aku lakukan…
Rasa takutku, bagaimana aku melihat orang sekitar ia sangat paham itu…

Tapi tidak denganku, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana ia, banyak hal yang kami ceritakan, tapi tak banyak pengertian yang bisa aku pahami darinya, ia sangat menjaga rahasia yang ada padanya. Ia bahkan merahasiakan kegiatannya padaku, (sangat jarang sekali ia mengatakan ia "aku sibuk, dan saat ini aku tidak ingin di ganggu. Atau ia bahkan tidak mengatakan nanti dulu,"), ia mendiami aku saat dirinya merasa jenuh, bosan, atau mungkin diam karena aku terlalu bawel untuknya.Ia selalu mencari tau apa yang ada pada diriku, mulai dari keluarga, teman, hingga keseharianku…aku sangat mempercayainya. Tak terlintas sedikitpun apakah yang ia katakan itu membohongi aku, dan dengan rahasianya atau mungkin kebohongan yang ia perbuat aku merasa sangat nyaman… apa yang harus aku lakukan??? aku sudah terlanjur percaya padanya, dari awal, sampai detik ini aku sangat percaya padanya.

Kami memulai hubungan pertemanan yang benar- benar dekat semenjak dua tahun terakhir ini, memang sebelumnya kami saling kenal karena memang sejak kecil aku "tau" ia, tapi aku tidak "mengenalnya" kebetulan sekolah kami itu satu komplek, berdekatan. Saat itu aku tau dia adalah sosok anak laki- laki yang biasa saja dan tidak banyak yang aku tau darinya, setelah beberapa tahun kami mendapatkan pendidikan di sekolah dasar, kamipun bertemu di kelas yang sama, yaitu di kelas dua SMP tepatnya di kelas 2.8 SMP N 1 Pp, aku dan dia satu kelas, bahkan aku sempat duduk tepat dibelakangnya. Di kelas itulah aku mulai ingin menjadi teman dekatnya, tapi tidak  bisa aku lakukan. Aku ingin menjadi teman dekatnya karena aku kagum padanya, seorang laki- laki baik, pengertian terhadap semua, apapun itu ia juga dipercaya oleh teman- teman yang dekat dengannya. Sayangnya saat itu yang aku lihat ia seolah menutup diri dengan lingkungan yang baru. Ia bergaul dengan semua, tapi yang aku lihat darinya ia tidak membiarkan temannya yang lain mengerti apa yang dia mau.

Kami berpisah setelah kenaikan kelas, dan tanpa aku sadari kami di pertemukan lagi oleh-Nya di sekolah yang awalnya aku anggap sebagai tempat pelarian, sekolah itu adalah MAN Pp, di sekolah itu, memang aku dan ia tidak pernah satu kelas, tapi aku bisa bercerita dengannya saat kegiatan ekskul.Pramuka. Memang saat itu bahkan sampai sekarang aku hanya mencoba bagaimana untuk menjadi temannya, apa saja yang harus aku katakan padanya sehingga ia merasa nyaman  saat berada dekat denganku, tetap saja yang aku lakukan aku hanya bisa mengucapkan beberapa kalimat padanya, kemudian berlalu begitu saja. Tidak berkesan sedikitpun.

Sempat aku berpikir kenapa aku sangat ingin menjadi teman dekatnya waktu itu, aku hanya bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang aku buat sendiri itu, karena ia adalah seoranng yang damai yang aku lihat. Ia memiliki banyak teman, dan ia orang yang ikhlas, ntah dari segi mana aku melihat sifat itu darinya, tapi itulah yang aku rasakan, dan aku ingin mengenalnya, jauh dari itu aku sangat berkeinginan memiliki seorang sahabat laki-2. dulu aku sangat ingin sekali merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak laki- laki, bagaimana aku dilindungi oleh kakak laki-2 itu, aku memang mendapatkan perhatian sosok laki- laki hebat, yaitu... Ayah, ya hanya dari ayah aku bisa merasakan perhatian dan kasih sayang yang tulus, tapi aku tidak mungkin menceritakan apapun yang aku alami setiap harinya pada ayah hanya untuk mendapat tambahan perhatian darinya, karena ayah adakah sosok laki- laki perkerja keras, ia tidak ingin melihat istri dan anak- anaknya kekurangan sedkitpun. Mana mungkin aku menambahkan cerita- ceritaku pada ayah,  karena itu aku sangat ingin ssekali memiliki kakak laki- laki. Tapi itu tidak mungkin dan sangat tidak mungkin. Aku beralih dengan selalu berkhayal memiliki sahabat laki- laki. Semenjak aku duduk di bangku kelas satu, rasa ingin mendapatkan perhatian dari sosok kakak laki- laki itu semakin besar, dan beberapa orang laki- lakipun sempat dekat denganku. Tapi mereka tidak memberikan apa yang aku mau, mereka malah menuntutku mereka menyatakan suka padaku, bukan itu yang aku inginkan,  aku hanya ingi berteman dan aku hanya ingin benar- benar dekat dengannya. Karena aku pikir jika aku membalas apa yang mereka katakan padaku, itu artinya aku sudah memiliki pasangan, tidak ada yang bisa menjamin aku kan nyaman dengan hanya selalu berdua begitu saja. Beberapa orang laki- laki yang awalnya merasa nyaman aku dengannya selalu menyatakan perasaannya padaku, sehingga aku benar- benar takut dengan hal itu,

Sempat aku berpikir apa aku tidak akan mendapatkan sahabat laki- laki??? Aku iri dengan orang yang di keluarganya lengkap, ada perempuan dan ada laki-2 selain ayah di dalamnya. Setiap aku berusaha dekat dengan laki- laki, beberapa dari mereka mengira aku menginginkan perasaannya sebagai seorang kekasih, tapi mereka tidak menunjukkan sosok seorang kakak yang aku cari. Mereka yang aku temui tidak bsa mengatur-2ku. tidak bisa mengijinkan aku memahaminya, dan kalau aku salah, ia lebih banyak mendiami aku dengan kesalahan yang aku perbuat.
Sampai akhirnya aku merasakan sosok itu ada padanya, ia marah, ia perhatian, ia bisa melarang dan ia bisa menyuruhku apapun itu tanpa batas, ia bisa menilai bagaimana sikap yang ia harus lihatkan dan tidak dilihatkan padaku. Sejalan dengan itu aku menyukai sosoknya, ia sangat sempurna bagiku, bahkan ia mampu menakutiku. Dekatnya aku dengannya saat ini, tidak membuatnya melakukan hal yang dilakukan mereka yang sudah dekat denganku sebelumnya, ia tidak mengatakan perasaannya langsung padaku, sehingganya aku tidak takut padanya.

diamnya membuat ku merasa sangat bersalah...

Yang aku sesali sekarang, ia begitu banyak menyimpan rahasia, aku tidak mampu membalas apa yang sudah ia berkan padaku, karena ia menutup semuanya dariku. Ia hanya ingin aku mendapatkan perhatian padanya tanpa aku minta, tapi ia tidak mengijinkan aku mengerti akan dirinya. Rahasianya kebohongannya ataupun kejujurannya membuatku nyaman.


0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates